Kakak Kelas

Awal tahun pelajaran itu, hari masih pagi, seorang gadis manis yang lagi berdiri di depan kelas 2B, kelas unik dengan lantai berundak-undak layaknya studio, hanya bisa terkejut, kala seorang kakak kelasnya menyampaikan selembar kertas yang tampaknya disobek dari buku pelajaran, bergaris-garis tanpa sampul, dilipat sembarangan pula.

“Terimakasih” Sesingkat itu kata yang diucapkannya, tanpa sempat bertanya dari siapa, maksudnya apa.
Penasaran, dibukanya saja.  Ada beberapa baris kalimat, yang tampaknya dicontek semena-mena dari lirik lagu Iwan Fals, dan sedikit dimodifikasi tanpa seijin pencipta lagu.

..Engkau tau isi hatiku, semuanya sudah aku katakan
Ganti kamu jawab tanyaku, Ya atau tidak itu saja
Bila hanya diam aku tak tahu Batu juga diam,
kamu kan bukan batu

kecuali batunya kamu..

“Ini maksudnya surat cinta?” Lirihnya pada diri sendiri sambil tersenyum-senyum.  Sambil melangkah ke dalam kelas, dia tak jua menemukan petunjuk si pengirim surat pendek yang sangat tidak niat itu, di akhir tulisan itu pun, tak pula tercantum nama penulisnya. Aneh !

“Atau mungkin si penyampai surat tadi itu sebenarnya sang pengirimnya?”  Halah pake dipikirin, sudahlah.  Dan pikiran itu tak lama pun ditenggelamkan oleh rangkaian penjelasan pengenalan anatomi lanjutan.

.

Hidup di sekolah bagi mereka adalah seputar asrama, ruang makan, ruang kelas, laboratorium, lapangan dan kandang ternak yang berjejer sepanjang utara sampai selatan di bagian belakang barat kampus sekolah.  Siklus harian itu tak berlaku bagi anak-anak tingkat akhir, karena asrama terbatas tak sudi lagi menerima mereka, opsi kos di luar kampus lebih baik, lebih baik segala-galanya.

.

Siang itu harusnya setelah jam istirahat, adalah pelajaran kedua, tapi beberapa anak lelaki sok rajin, membantu pak Akim, staf kantor sekolah, memasang kotak oranye bertuliskan Pos Indonesia, di kanan gerbang masuk sekolah.  Permintaan yang baru dikabulkan pihak pos setelah permohonan bertahun-tahun.  Mau mengirim surat saja harus ke kota yang jaraknya lima kilometer, padahal penting tentu, kebanyakan banyak pesan yang harus disampaikan, terutama di akhir  bulan.  Mengingatkan orangtua di rumah, kalau kehidupan semakin genting!

.

2.

Setahun sebelumnya, malam opspek di aula,perkenalan siswa baru, yang diberi kewajiban meminta tandatangan pada kakak kelas, tak ada tujuan yang jelas, selain mengakrabkan antar angkatan, selain ajang penilaian adik kelas yang pantas untuk lirik para kakak kelas berstatus jomblo terkutuk.

Untuk yang kedua kali sudah, gadis manis itu mendatanginya, wajahnya yang sedikit panik dan selalu tertunduk itu rupanya tak menyadari hal itu.  Tanpa peduli menyodorkan kembali buku tulis yang sudah tampak lusuh dan suram.

“Kak..”
“Tadi kan sudah dikasih tandatangan?”
“Err.. biar deh, ngga apa-apa juga dikasih lagi”, Gadis manis yang adik kelas itu tersenyum-senyum saja tak peduli.
Yang di panggik, ‘kak ‘itu kembali membubuhkan tandatangannya.  Mengembalikannya lagi.
“Terimakasih, kak..”
“Sama-sama..”

.

3.

Saka Bumi ajaibnya mengadakan perkemahan, yang jarang sekali dilakukan.  Di desa hijau yang dikepung kebun jagung. Tenda terpal di dirikan di halaman kantor desa.  Peserta perkemahan sendiri siang itu sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.

Hanya tepat di samping bangunan kayu, balai pertemuan masyarakat sekitar situ, kesibukan yang nyata sedang berlangsung, seksi logistik fokus dengan menu makan malam untuk seratus orang lebih yang tampaknya tak terlalu  peduli akan hal itu.

Gadis manis itu berjaket biru, putih garis-garis biru tepatnya.  Beda sendiri dengan yang lain, yang setia dengan seragam pramuka, tapi dia tidak, walaupun terlihat sibuk mengupas kulit telur rebus, kemudian aktif kesana kemari entah ngapain.

Diam-diam seorang kakak kelasnya, mengamati tingkahlaku adik kelasnya itu dari tenda seberang dapur terbuka itu.  Tersenyum-senyum sendiri tak jelas, cuek dengan petikan gitar di samping tenda yang mengiringi koor sebuah lagu yang baru di dengarnya kala itu.

Look into my eyes,  you will see what you mean to me.
Search your heart, search your soul
and when you find me there you’ll search no more.

don’t tell me it’s not worth tryin’ for.
You can’t tell me it’s not worth dyin’ for..

Itu soreharinya, besok paginya ada acara bakti lingkungan sebentar saja.  Gadis manis berjaket putih garis-garis biru itu, sedang berjalan beriringan dengan tiga orang temannya, setelah sebelumnya melihat-lihat pasar kecil di kampung itu.  Seorang kakak kelas yang sebelumnya duduk di sudut jalan sambil memainkan sendok yang tampaknya lupa dikembalikan ke dapur umum, tiba-tiba menghampirinya, mengajukan pertanyaan singkat

“Hey, kamu tau nggak jarak antara bumi dan pluto?”
Yang ditanya cuma bisa menggelengkan kepalanya pelan, sambil mengerutkan kening.
Yang bertanya kemudian tersenyum, lalu berucap
“Aku juga tak tahu jarak pastinya,
tapi yang jelas rasa sukaku padamu kalau dihitung-hitung melebihi jarak antar keduanya”
Gadis manis itu hanya bisa terperangah sebentar, mengerjapkan sepasang mata indahnya, kemudian tersenyum sambil menunduk.  Sementara kedua kawannya kompak membuat paduan suara “Jiyeehhh..”
.

4.

Ada-ada saja kegiatan sekolah kalau menjelang liburan semester, kali ini cross country lah namanya, acara rutin tahunan sih.   Berjalan keliling, dari starting point lapangan sekolah, terus dari pagi sampai saat kembali lagi di sore hari .

Medannya relatif datar, tapi melewati kebun, sawah penduduk, kampung, sampai melewati tempat wisata di kabupaten kecil itu, memang kegiatan yang tak biasa, dan menyenangkan.  Terutama bagi yang sedang dekat-dekatan.

Gadis manis itu, tentu saja ikut, wajib hukumnya bagi anak kelas satu.  Tetap saja tak lepas dari tiga orang kawannya.  ‘Ya sekarang mereka berempat’ Gumam sang kakak kelas, sungguh tak penting eh?

Siang hari, salah satu sisi Parkia speciosa menjadi sandaran seorang lelaki kurus, sang kakak kelas, kedua tangannya sibuk mengingat-ingat chord lagu sederhana yang baru didengarnya dari kamar sebelah dikosnya. Menggumam sendiri, reffrain yang belum sepenuhnya hapal.

Talk to me softly, there’s something in your eyes
Don’t hang your head in sorrow and please don’t cry
I know how you feel inside, I’ve been there before
Somethin’s changin’ inside you and don’t you know

Kali ini, diam-diam seseorang mengamati tingkahnya.  Giliran gadis manis yang beberapa bulan yang lalu diberinya pertanyaan spontan tak jelas tentang jarak antar planet, mendengar sayup-sayup liriknya, dan secara tak kentara pula melanjutkannya..
.. don’t you cry tonight..

.

5.

Biasanya, sehabis makan malam, ruang makan di depan asrama laki-laki itu lampunya sudah padam.  Tapi tidak untuk malam itu.  Beberapa meja makan yang panjangnya dua meteran itu, malah disusun berbentuk lingkaran, ah kotak tepatnya.  Berkelilinglah anak-anak kelas satu dan dua disitu, topiknya maha penting: pemilihan ketua OSIS dan MPK.

Gadis manis itu tentu hadir, tentu berjaket kebangsaannya itu lagi.  Entah bagaimana ceritanya, kakak kelasnya itu ada pula, sibuk sendiri dengan pensilnya sementara komite pemilihan menjelaskan tata tertib pemilihan.

Hasil karyanya adalah coretan tak rapi di secarik kertas, digulung seadanya, yang tak tahu diri dititipkannya pada seseorang yang duduk di antara dirinya dan gadis berjaket putih garis biru-biru, yang padahal sedang serius menyimak.

Kalimat singkat itu “Kamu kalem, ya?”
Pembacanya lebih dari sekedar senyum, setelah sekilas melirik sang pengirim, malah seperti berusaha menahan tawa dengan telapak tangan kanannya.  Tapi tak marah, malah tampak menggoreskan sesuatu di balik kertas yang diterimanya.  Menggulungnya lagi, lalu secara berantai sampai lagi di tangan kakak kelasnya.

Balasan yang tak kalah singkat, namun bedanya, tulisan tangannya rapi
“Kalem? Kayak lembu, maksudnya?”
Hai, bisa bercanda juga rupanya.  Terkikik sendirian di kursinya, ketua terpilih pun tak begitu dipedulikannya lagi.

Menjelang sepuluh malam, rapat usai.   Panitia pun bubar.  Satu demi satu pesertanya kembali ke tempat berasal.  Gadis manis itu pun berjalan, tumben sendirian, ke arah asramanya, yang tenang di samping masjid kampus.  Bisa-bisanya kakak kelasnya itu berbalik arah, bukan kembali ke asramanya sendiri, malah menyusul pelan-pelan, lalu tak kentara berhasil berjalan menjejerinya.

Malam itu, rembulan sedang terang, saat sekilas senyum gadis itu terlihat, saat menoleh kakak kelasnya yang berjalan disampingnya, sedang menatapnya.  Tak ada kalimat apapun, hanya jalan tertunduk menatap ruas jalan aspal tak rata yang tak seberapa.  Mungkin tak sampai seratus meter jarak antara ruang makan dan asrama puteri.  Tapi rasanya lama ditapaki baru sampai.

Mungkin berharap jaraknya lebih jauh, malamnya lebih panjang, rapatnya lebih lama.  Tapi pintu asrama sudah menunggunya, kakak kelasnya setengah menunduk sambil mengucap salam.  Gadis manis itu lagi-lagi tak bosan membalas dengan senyum, lagi-lagi berucap santun ” Terimakasih, ya”

.

6.

Duduk-duduk saat jam istirahat seperti biasanya, di teras kelas yang lantainya bersemu tanah merah.  Seorang kawan mendekatinya, duduk disampingnya.  Mata mereka sama-sama memandang ke arah yang sama, laboratorium depan kelas, dan gadis manis yang sedang berbincang di samping pintunya.

“Katanya kau sedang mendekatinya, bro?”
Yang ditanya hanya menaikkan alisnya.
“Dia sudah ada yang punya, bro..”

Lalu hela napas yang terasa berat, ditarik perlahan.

.

7.

Empat bulan berlalu, sudah.

“Bro! Kabar baik datang juga”
“Ya?”
“Gadis manismu itu sudah bebas, bukan siapanya siapa-siapa lagi..”

Tak ada komentar lagi, malah merogoh sesuatu dari dalam tas, memberikan selembar kertas yang tampaknya disobek dari buku pelajaran, bergaris-garis tanpa sampul, dilipat sembarangan.
“Nanti kasihkan ke dia ya, kalau kau sempat” Kemudian beranjak masuk ke dalam kelas.
“Wih, surat, nggak jelas bentuknya gini, serius ente?”
Tertawa saja jawabnya.
“Harus nyampe, lho !”
Yang diberi amanah cuma membalas singkat : “Siap !”

.

8.

Asrama puteri sudah sepi, penghuninya sudah terlelap akibat letih, seharian membersihkan lahan bukanlah gampang untuk mereka, tapi ada satu meja yang masih terang.

Gadis manis itu terpekur sendiri di meja belajarnya.  Berusaha menata kata dengan baik, agar si penerima pesan, bisa maklum akan jawaban atas pertanyaan, yang baru  empat hari yang lalu dia tahu siapa pengirimnya.

Tiga puluh tujuh menit dihabiskannya, untuk dua lembar kertas berwarna lembut.  Tapi tidak dengan isinya, yang sehalus mungkin menyelubungi pesan, bahwa simpati tak selalu bisa mendapat tempat di hatinya.

“Belum saatnya..” Bisiknya lirih, melipat rapi, kemudian memasukannya ke dalam sampul.  Berniat memberikannya besok pagi, sepagi mungkin.

.

9.

Detak jantungnya tak berhenti berdebar semenjak usai sekolah, lebih kepada penasaran akan balasan, yang tadi pagi langsung diberikan oleh sang penulis. Histologi, patologi, entah apalah itu, memuai dari isi kepalanya.

Menjelang ashar, senyum lebarnya perlahan-lahan berubah datar.  Berusaha memaklumi dua paragraf terakhir yang dibacanya, berisi kesimpulan atas balasan akan apa yang awalnya adalah harapan.

…terimakasih atas apapun itu, mungkin kita baiknya hanya berteman…

Kamar kosnya mendadak terasa senyap, dunia rasanya sunyi total.  Sampai dia menyadari masih ada lembar kedua yang belum dibacanya, semangatnya keburu musnah, dia sudah tau endingnya bagaimana, tapi..

… terakhir, kalau kakak tidak keberatan, mau tidak menuliskan lirik lagu You’re all I need-nya White Lion, untukku?

Nah ! Apa coba itu maksudnya?
Tapi akibatnya,  dunia rasanya kembali riuh.

.

10.

Tujuh belas agustus malam.  Gadis manis itu sudah kelas dua, duduk di meja tak terpakai di sisi panggung.  Menikmati band dadakan kakak kelasnya yang membawakan lagu ciptaan mereka sendiri, yang sudah beberapa minggu terakhir latihan di studio sekolah.

Usai penampilan, gadis manis malah menyapa pemain gitar.  Yang berusaha menutupi rasa awkward-nya.  Menagih janji.

“Sudah belum?”
“Eh, apanya?” Yang ditanya malah tergagap, sampai lupa melepas belt Fender stratocaster merah di bahunya.
“You’re all I need..”
“Oh..”  Merogoh saku belakangnya, memberikan lipatan kertas yang entah sudah sejak kapan disiapkannya.
Ada semburat sumringah dari penerimanya, lagi-lagi suara merdu itu terdengar, seperti diputar ulang
“Terimakasih, ya..”

.

11.

Beberapa hari sebelumnya.
“Bro, bantuin dong…”
“Apaan?”
“Katanya kau hapal lagu-lagunya White Lion..”
“Yang hitsnya doang..”
“Nah, itu maksudku, tulisin dong..”
Tanpa menanyakan lebih lanjut, tulisan tangan kecil-kecil itu sudah penuh, nyaris satu halaman, beberapa bagian dicoret dan diperbaiki disitu juga.

Hanya perlu limabelas menit, tepat sebelum bel masuk pelajaran ketiga berbunyi.
“Ini bro. Beres, tapi tulis ulang aja ya, tulisanku jelek hehe..”
.

12.

Masih malam tujuhbelasan, acara sudah usai.  Gadis manis itu beranjak dari duduknya, melangkah ke pintu belakang aula.  Langkahnya terhenti, tangan kanan kakak kelasnya menahannya, pelan menyentuh tangan kirinya.

“Sebentar, aku mau bicara..”
“Eh, bicara apa?”  Ada sedikit pias diwajahnya.
“Tentang jawabanmu itu..”
“Surat itu?”
“Iya!”
“Kan, sudah jelas disitu, apalagi?”
“Tapi, aku tak mau menerima jawabanmu itu..”
“Ih gimana sih.. Aku pulang dulu, itu ada pak guru menuju kesini, nanti dikira ada apa-apa..”

Sebelum kakak kelasnya yang tak tau diri itu sempat berucap lebih lanjut, gadis manis melangkah cepat-cepat. Tapi cahaya lampu neon yang singgah sekilas di wajahnya, tak bisa membohongi senyum yang berusaha ditutupi disitu.

Kakak kelasnya pun berbalik arah. Menggenggam telapak tangannya kuat-kuat, meninjukannya ke udara.  Setengah berteriak : “Yeah !”
“Ada apa ya?” entah darimana arahnya, guru Reproduksi itu tiba-tiba saja berseru di samping telinganya.
“Eh tidak ada apa-apa, pak.  Selamat malam pak..”
Bergegas pulang, sambil bersenandung dua baris intro yang baru dihapalnya..

I know that she’s waiting
For me to say forever.

.

13.

Terpujilah perancang selokan lebar ! Pekiknya dalam hati.

Selokan-selokan di sekujur kampus memang dirancang lebar dan lumayan dalam, dari depan pintu gerbang di bagian timur sampai ke bagian paling belakang berupa kandang di ujung barat.  Mungkin setengah meter yang memberi jeda antara jalan lurus setapak selebar satu meter, dengan petak-petak kandang broiler yang jumlahnya ada empat.

Malam itu, sehabis isya adalah saat truk pengangkut broiler datang, waktunya panen setelah empat puluh hari menunggu.  Entah dapat informasi darimana, kakak kelasnya tahu saja akan itu, dan menawarkan diri untuk menemani gadis manis itu ke arah timur yang tak semuanya diterangi lampu jalan.

Hanya ada diam sepanjang jalan beton, sampai di ujung yang mengharuskan berbelok ke kanan, ke selatan.  Beberapa meter dari situ, gadis yang berjalan di sisi kiri kakak kelasnya itu terlihat ragu.  Tak ada papan membujur di atas selokan, sebagai jembatan darurat yang menghubungkan kedua sisinya, tak jelas pula karena tak ada penerang jalan.

Inisiatif itu penting kawan.  Kakak kelasnya melompat ke seberang, sekejap mengulurkan tangannya.  Ada sejenak yang dipenuhi ragu.  Beberapa detik saja sebelum kedua telapak tangan kanan mereka bertautan, ditarik pelan tapi pasti.  Tersenyum lagi, sebagai ganti terimakasih.

Gadis manis itu mungkin tidak tahu, lembut tangan yang digenggamnyaa masih terasa sampai kegiatan malam itu berakhir, sampai mengantarnya kembali pulang, sampai keduanya pulang, sampai semuanya pulang.

Rasanya pun, purnama terbit penuh sampai subuh.

.

14.

Kamar kos itu begitu sederhana, menempel tepat di belakang rumah guru kelas satu. Cuma ada satu pintu, tapi ada bangku, masih baru di sisi kanan, di bawah Anona muricata yang tak begitu rimbun.

Padahal belum ada kejelasam, tapi gadis manis itu tetap saja didatangi kakak kelasnya yang tak tahu diri itu, mau tak mau tamu harus diterima.  Duduk berdua, sehabis maghrib usai.  Hanya bertanya jawab tentang hal-hal kurang penting seputar pelajaran, yang sebenarnya tak begitu dimengerti sama sekali.

Itu tak penting, sama tak pentingnya dengan perasaan kaka kelasnya yang berpendar-pendar, sementara sang gadis kehabisan akal untuk secara halus, memintanya untuk pulang.

“Tak nyaman sama bu guru kalau kau lama-lama disini”.  Tukasnya.
“Lalu, kita bagaimana?”
“Eh, kita?”
“Iya, kau belum memberikan jawaban lagi..”
Gadis itu kembali tertuntuk, memainkan ujung kemejanya.

Sementara, dari dalam kamar Mr. Big mengalun menjelang fading tak peduli , entah siapa yang memutarnya..

I’d give my everything, if only I could turn you around
But if this is goodbye..

Just take my heart when you go

Malam pun pelan-pelan beranjak, kakak kelasnya pun pelan-pelan beranjak..

.

15.

Dibakar rasa penasaran, hanya berselang dua hari, kakinya kembali berjalan menuju jalan setapak yang dihapalnya, menuju halaman belakang rumah gurunya, ke tempat gadis manisnya.  Ah belum ada akhirnya ‘nya’, belum juga miliknya.

Langkahnya tinggal beberapa meter lagi, sebelum ditahan oleh sepasang kukuh punya teman kelas tiga, tapi bukan sekelasnya.

“Hey, tunggu bro.  Jangan kesitu dulu..”
“Ada apa?”
Lamat-lamat tercium aroma menusuk dihidungnya, yang pernah dihirupnya saat anak-anak seasrama mabuk semalaman habis merayakan kemenangan tanding bola, dengan taruhan tentunya.

“Ada apa?” Kembali pertanyaanya diulang.
Hanya ada dagu yang terangkat, mengarah pada ambang pintu yang diduduki seseorang yang dikenalnya, yang diberitakan sebagai pemilik gadis manisnya, dulu.  Sementara tuan rumah yang mau didatanginya, terlihat  berdiri menyilangkan tangan.

“Aku mau menunggu saja” tegasnya.
“Hati-hati, bro. Aku pulang dulu, jaga diri baik-baik.”  Sekilas dia merasa ada sebilah besi dingin yang diam-diam diselipkan di pinggangnya.
“Buat jaga-jaga saja..”
Yang diberi pesan cuma mengangguk.

.

16.

Malam itu rasanya lama.  Mau-maunya dia menunggu di samping pagar kayu, yang memisahkan halaman samping dan belakang, menunggu apa yang harus terjadi selanjutnya.  Nyatanya obrolan gadis manis itu dengan seorang lelaki di ambang pintu tak jua usai.

Tiga puluh menit menunggu dirasa cukup.  Dia memutuskan akan menghadapi apapun resikonya.  Membuka pintu pagar dan.. ternyata tak ada siapa-siapa di depan pintu, selain gadis manis yang memandang lurus kegelapan malam di hadapannya, tapi ada hembusan napas lega yang didengarnya.

“Hai..”
Hanya ada terkejut, lalu diam.
Duduk bersisian, tanpa suara, tanpa ada yang berusaha memulainya.

“Aku masuk ke dalam sebentar ya..”
Ia mengangguk saja. Dan belasan menit berlalu.

Kakak kelasnya itu rupanya, tak mampu merangkai kata-kata dengan baik, kemampuannya akan itu sangatlah buruk saat berhadapan makhluk paling manis yang pernah dikenalnya di muka bumi ini. Dia hanya mampu menuliskannya, tak lebih dari itu, disebut pengecut pun tak apalah.

Untuk yang ketigakali mungkin, kali ini dua baris kalimat singkat tertuliskan, di kertas tanpa sampul, dititipkan dengan kawan sekamar gadisnya, untuk disampaikan, sementara dia memutuskan pulang, tak mau juga mengganggu orang lain menuntaskan masalahnya.

“Jadi, masih bolehkah besok-besok aku kesitu, menemuimu?
dan bolehkah aku, mulai merindukanmu?”

Aih, lagi-lagi terlalu percaya diri, yang tak tahu diri !

Melangkah pulang, bersiul pelan..

Said, sugar, make it slow and we come together fine
All we need is just a little patience..

.

17.

Awal sebenarnya jauh berbulan-bulan sebelum itu.  Kala sekolah menjadi tuan rumah pertemuan sekolah satu rumpun, se Indonesia.  Dia dipercaya untuk menerbitkan majalah dinding, edisi secepat kilat.  Membuat bingung saja, sebelum-sebelumnya cuma ada tempatnya saja, berupa semacam papan pengumuman, persis seperti yang ada di kelurahan, berlapis kaca, berkunci namun sudah berkarat, dan tentu rusak.  Terpajang tak acuh di depan perpustakaan. Hanya ada sepotong puisi entah dari tahun berapa, awet terpaku disitu.

Semuanya harus dikerjakan serba manual.  Rubrik-rubrik utama, berita sekilas seputar sekolah, kegiatan siswa, cerita pendek dan puisi sampai ilustrasi.  Sungguh dia berdoa banyak-banyak, semoga tidak semua siswa sekolah mempunyai tulisan tangan seperti roller coaster seperti dirinya, tak pernah rata dan nyaris terlihat bergetar di tiap kata.

Sampai ada informasi di telinganya, ada satu adik kelas satu yang baru, tulisannya bagus.  Tak sungkan dimintai tolong, dan konon menjadi bahan persaingan anak-anak kelas tiga.  “Pasti gadis yang menarik” Pikirnya.  Sebentar saja, lalu terpikirkan deadline dari kepala sekolah, yang tak berperasaan hanya memberi waktu satu minggu.

“Hey, kamu !”
Yang dipanggil sekan menegaskan lagi pendengarannya, menempelkan telapak tangan kanannya ke dada, dengan raut bertanya.
“Saya?” Kembali bertanya.
“Iya, kesini sebentar..”
“Ada apa, kak?”
“Minta tolong tulisin ini ya, untuk mading.  Kalau bisa secepatnya.  Terserah mau pake HVS, atau kertas apa saja, bebas.  Kalau ada yang kurang bagus susunan kalimatnya, silakan perbaiki secukupnya.  Yang jelas harus rapi ya..”

Tanpa ada kesempatan untuk menyanggah sama sekali, apalagi menolak.
“Tapi, kak..”
“Kalau ada yang kurang, atau ada yang diperlukan, aku ada di kelas sebelah ya?  Terimakasih”

Gadis manis itu hanya bisa terbengong menerima dua lembar draft tulisan yang diserahkan ke tangannya.   Mengamatinya sebentar, kemudian..
“Kak, bagaiman….”
Pertanyaannya menggantung begitu saja, kakak kelasnya tadi menghilang begitu saja dari hadapannya.  Ajaib.

.

18.

Seusai makan siang, bergegas ke depan masjid, di bawah Acacia mangium yang sudah tua.  Tadi di ruang makan, ada pesan dari salah satu penghuni asrama puteri, ada yang mau menemuinya.

Gadis manis itu sudah menunggu dengan seorang temannya.  Sangat menepati janji, rupanya.

“Ini kak, tulisannya kemarin.  Ada beberapa yang aku tambahin, mohon diperiksa lagi..”
Tak ada respon, langsung mengambilnya, mengamatinya sejenak, lalu tersenyum lebar.

“Wah, bagus. Sudah rapi ini.  Terimakasih banyak ya?  Nanti kalau diminta tolong lagi, mau ya?”
Yang ditanya cuma mengangguk.

“Oh ya, katanya nanti mau ngisi acara pas malam besok ya? Nari bukan ya?”
“Iya. Eh, tau dari mana, kak?”

Yang ditanya tak menjawab, hanya tersenyum-senyum, dan malah berbalik arah.  Tiga langkah saja, kemudian berbalik lagi.  Memandang ke arah gadis yang masih sedikit terperanjat.

“Sukses ya untuk acara besok malamnya”  Melambaikan tangannya, kemudian berbalik lagi dan melangkah menuju lokal sekolah.

Gadis yang tak sadar, kalau diam-diam kakak kelasnya itu, mulai menerbitkan kagum yang tak pernah disadarinya.  Bahwa diam-diam apapun tentangnya adalah hal yang tak pernah ditemui pada gadis manapun.  Termasuk wangi lembut yang serasa memenuhi udara sepanjang siang itu.

.

19.

“Bro..!”
“Ya?”
“Gadis yang selalu kau amati itu, juara umum tahun ini. Hebat”
“Iya eh, aku sudah tahu kok”
“Lho, tahu darimana?”
“Ada laah..”
.

20.

Waktu itu layaknya batu saja rasanya, terlempar kesana sini, ke depan, kemanapun tanpa ada yang bisa menghentikannya.  Sampai rasanya mengenai kepalanya, menyadarkan kepalanya, saat seseorang memberikan sampul biru donker tak kentara.  Setengah berbisik kalimat yang sampai ke rongga telinganya.

“Bacanya nanti saja, saat pulang ya?”
“Eh?”  Kagetnya tertutupi wangi lembut yang sudah dihapalnya, merebak seiring berlalunya pemberi pesan.  Yang bergegas pergi malu-malu.

.

21.

Malam itu, menjelang akhir Agustus yang mulai dingin di jam sembilan.  Tak berperasaan, merobek sampul biru donker cepat-cepat.  Mengeluarkan dua lembar yang terlipat rapi, meluruskannya.  Membacanya, sekali, dua kali, tiga kali, empat kali.  Dan akhirnya lima kali berusaha mencerna tulisan rapi yang dikenalnya sejak lama.  Sejak terpajang di dinding yang sekarang kuncinya tak lagi berkarat itu.

Dadanya rasanya meledak-ledak, membaca rangkaian cerita, yang tak lagi ditutupi tirai apapun, semua jelas sudah.  Sampai pada bagian akhir, halaman kedua yang serasa langsung bisa dihapalnya saat itu juga..

Tadi malam, kau tahu masalahku sudah usai, aku sudah lega, aku sudah bebas dengan diriku sendiri.
Aku tak tahu harus memberi jawaban apa lagi padamu.

Entahlah, yang jelas saat menuliskan ini. aku kangen, denganmu..

Tapi janji padaku, surat ini, habis dibaca, dibakar ya.
Aku malu kalau ada yang tahu, cukup aku dan kau. Kita. Saja.

..

Kali ini, rasanya ada  pesawat ulang yang alik tiba-tiba berdiri di samping meja belajarnya saat itu, meluncur deras menarik dirinya melayang-layang lurus jauh ke atas, tak lagi merasakan gravitasi.

Angkasa malam itu rasanya dipenuhi bintang berpendar-pendar tak terhitung, lalu serentak berjatuhan, menyirami mimpinya, meledakkan sadarnya, membuat semuanya serba benderang.

Now and then when I see her face, she takes me away to that special place
And if I stay there too long, I’d probably break down and cry

.

22.

Satu hal yang sedari dulu mengganggu pikirannya adalah: kenapa ada orang repot-repot membawa payung di kala hari terik?  Takdirnya payung bukankah di bawah derainya hujan? Melindungi dari basah yang lama dan dingin. Diskusi tak penting dalam batinnya itu tak pernah usai.  Sampai pada suatu siang.

Hari sabtu dan minggu paling akhir setiap tiga bulan, adalah jadwal pulang ke rumah bagi beberapa siswa, setelah delapan puluh delapan hari normal yang tak normal, bertemu dengan kawan yang itu-itu saja, bertemu guru-guru yang kadang membosankan, ya pengecualian bagi satu guru yang menyenangkan, tak bertemu dengan orangtua, karena asrama dan kos memaksa mengenal frasa LDR terlalu dini.  Dipaksa merasakan aura rindu lebih awal, rindu dengan rumah, dengan orangtua.

Tadi itu, sempat-sempatnya bertemu di samping laboratorium, yang aroma formalin cairnya tak lekang entah sejak angkatan berapa tak hilang-hilang.  Tapi kawan, hukum kekekalan aroma pengawet yang sengak itu, akhirnya terpatahkan oleh wangi menyenangkan yang terasa menyelimuti gadisnya. Aduh, kata yang terasa tersangkut di tenggorokan : gadisnya.  Sungguh, kakak kelas yang sangat ndeso. Tak pernah kenal yang namanya wewangian selain aroma aneh oleh-oleh neneknya naik haji, dan jelas tak pernah pula bertemu gadis manis beraroma arumanis.  Kasihan sekali.

Dihitung-hitung mungkin cuma dua menit, cuma ada sepatah dua patahan kata, mirip sambutan pak camat yang terburu-buru membuka acara karena dipanggil bupati untuk rapat.  Itu pun cuma berujar, sambil memandang tanah, yang makin terlihat merah bata.

“Aku besok mau pulang dulu ya?”
“Aku temenin, boleh?”

Ragu sejenak, lalu mengangguk makin tertunduk.  Rasanya canggung sekali, pulang ditemani oleh seseorang, ah.

“Aku tunggu di pintu gerbang, jam empat lima belas sore” Kalimat itu seperti mengambang di udara, sementara si pemberi janji udah berlari, menyisakan sisa wangi yang lamat-lamat kembali berubah menjadi aroma formalin yang mengerikan.

.

23.

Tigabelas menit yang diperlukan, untuk berjalan tak santai dari teras kos menuju gerbang besi sekolah.   Harusnya masih ada dua menit sisa waktu yang disepakati. Ya ya selain tentang logika payung di bawah terik matahari, ketepatan waktu juga menjadi masalah yang tak habis-habis.  Tak habis pikirnya, ada orang yang berani memberikan janji akan waktu, tapi tak bisa menepatinya.  Dua hal yang tak bisa kompromi di benaknya.

Baru tiga menit padahal beranjak dari pukul empat, gelisah mulai terasa seperti rasa gatal saja rasanya.  Akhirnya di menit ke delapan, saat umpatan sudah akan terlontar ke arah lapangan bola yang rumputnya terlihat kering, satu titik terlihat dari jauh, dari tikungan paling ujung, dan makin mendekat, dan membuatnya terperangah sejenak.

Itu adalah sebuah payung ! Di saat matahari masih ada di langit !  Dan yang memegangnya adalah, gadis manisnya, yang telat sepuluh menit tepat, saat berucap tanpa dosa.

“Menunggu lama ya?”

Anehnya, umpatan menguap, segala yang terasa aneh menjadi normal, menjadi indah saja.  Memang apa salahnya seorang gadis manis memakai payung kala matahari masih ada?  Apa salahnya orang telat sedkit dari janji yang dilontarkannya selama berusaha keras menepatinya.  Dua sisi benaknya yang tak pernah berdamai entah sejak kapan itu, tampaknya sedang berjabat erat-erat.

“Hey! Ditanya nggak dijawab”
Ada senyum yang menanti di sampingnya.  Menyadarkannya.

.

24.

Jarak antara sekolah dan rumah gadis manisnya itu, tak sampai seratus kilometer.  Angkutan yang ada, hanyalah mobil colt, biasanya berwarna putih, untuk kemudian berganti angkot berwarna hijau sesampainya di bunderan batas antar kabupaten.

Hanya ada diam berlapis senyum dan bermain di alam pikiran sendiri-sendiri di sepanjang jalan, terus begitu sampai saatnya turun di pertigaan jalan menuju tujuan akhir mereka.  Rasanya waktu bergulung cepat-cepat saja ya.

“Ke rumahku, masih sekitar dua kilo lagi, lhoh..”
“Trus, kesitu naik apa?”
“Jalan kaki aja yuk, mau?”
“Iya, tapi dengan satu syarat..”
“Eh, apaan?”

Rasanya waktu berhenti sesaat, sekedar menunggu syarat.

“Apaan syaratnya?” Diulang lagi, memastikan.
“Payungnya jangan dibuka ya?”
Yang diminta, malah tertawa-tawa.
“Iya iya, syarat yang aneh.  Kirain tadi..”
“Kirain apa?”
“Nggak, nggak apa-apa..”

Mungkin dipikirnya, syaratnya jalan sambil pegangan tangan? Duh.. Dua kilometer, nah trus pulangnya lagi nanti gimana?

.

25.

Lurus berhadapan dengan kelas satu A, adalah perpustakaan.  Surga favoritnya.  Nyaris setiap waktu istirahat dihabiskan disitu, selain menyenangkan, jelas sangat irit jajan.  Seperti istirahat kedua hari senin yang panas itu.  Tak terpikirkan apa-apa selain ingin menamatkan jilid 7 ensiklopedi dunia yang meriah penuh gambar berwarna.

Prosesnya agak rumit, harus meminta tolong petugas untuk mengambilkan buku yang diinginkannya, soalnya termasuk kategori berharga, katanya.  Tepat saat bukunya dikasihkan petugas, tanpa menolehpun dia tahu, siapa yang tiba dan berdiri disampingnya.  Wangi yang sudah dihapalnya itu sebagai penanda.

Jadilah salah tingkah sendiri.

Entah siapa yang merancang empat meja yang ada di sepanjang jendela yang mengarah teras itu. Seatu meja cukup hanya untuk dua orang, hanya ada dua kursi di tiap meja. Jadinya menunggu gadisnya memilih bukunya, yang tampaknya tak menarik, tentang zoonosis. Lalu mengekor saja, ke meja di bawah jendela keempat, dekat tembok. Lho mojok !

Pura-pura membaca, tiga lembar, tak tahan juga menoleh ke arah kiri, dan yang di kiri di detik yang sama menoleh ke kanan, mata mereka bertabrakan. Sama-sama berusaha menahan tawa, akhirnya. Kemudian ada yang setengah berbisik.

“Eh, aku bawa sesuatu untukmu..”
“Apaan?”
Jawabannya berupa kotak kecil terbungkus koran. Diterima dan diguncang-guncang, ada bunyi oklak-oklak.

“Boleh dibuka nggak nih?” Masih setengah berbisik.
“Iyaaa..” Jawabannya bisikan penuh.

Bungkus koran bekas dibuka, ada Kidnap Katrina di dalamnya.

“Makasih..”. Matanya berbinar.
“Yang biru, anggap saja untukmu”
“Eh, maksudnya?” Bingung, lalu menelusuri daftar lagu di sampul kaset itu. Lalu tersipu.
“Tapi..”
“Ya?”
“Ntar habis didengerin, jangan dibakar ya?”
Ada cibiran, dan tinju pelan yang menuju bahu. Tapi senang.

.

26.

.

Hari senin, tak bosan-bosannya diadakan upacara bendera, di lapangan bola di seberang kantor guru. Kegiatan rutin selain upacara adalah, menolong cewek-cewek yang kesurupan. Seringkali dan rasanya tak pernah yang tergeletak tak sadar -untuk kemudian berteriak-teriak tak jelas- itu cuma satu orang. Satu orang hanya sebagai trigger, selanjutnya dua, tiga, empat bahkan lima gadis seperti kompakan, jatuh bergiliran ke rumput kalau tak keburu dipegang.

Hingga suatu senin, gadis manis itu ikut mengangkat temannya yang ‘kemasukan jin’.   Ajaibnya kayaknya artis, temannya yang bukan lagi temannya kala tak sadar itu, bisa diwawancarai. Akibat bosan, jin yang sejatinya bisa keluar dari tubuh, malah ngajak becanda. Termasuk ngomong dengan enteng saat dibacakan yasin. “Baca itu nggak mempan !”. Duh.

Hingga entah siapa yang memulai tanya jawab, dengan jin. Sementara empunya tubuh diam tak sadar, tapi mulutnya menjawab saja jika ditanya.

“Kok masih aja sih disitu?”
“Ya nggak apa-apa, habisnya betah sih..”
“Kamu siapa sih?”
“Aku bungsu dari tiga bersaudara..” Nah, lhoh !
“Lho, kedua kakakmu mana?”
“Sudah pulang dari tadi”
“Kok kamu nggak ikut?”
“Nanti saja, sudah dibilang masih betah disini”
“Rumahmu dimana sih?”
“Di guntung situ..”

Sambil tangannya menunjuk lemah ke arah utara. Di area belakang deretan kandang ternak, memang ada lembah di tengah hutan kecil yang dialiri air kala musim hujan. Itulah lokasi yang dimaksud, yang memang konon adanya kerajaan jin disitu.

Dan tiba-tiba, tangannya berbaalik arah, menunjuk ke arah gadis manis yang sedari tadi hanya diam sambil sesekali ikut tersenyum-senyum menyaksikan wawancara antar makhluk dua alam.

“ Hey, kau..”
Yang ditunjuk cuma bengong.
“Kamu sekarang jadian ama kakak kelasmu, ya?”

Buset. Sejenak pipinya rasanya merona. Sementara kawan-kawannya yang mengelilingi, beralih fokus. Semua berbalik menatapnya.

“Eh, apa-apaan sih, ini?” Berusaha menahan luapan rasa yang aneh. Aneh sekali, sedikit rahasianya jutsru dibuka oleh makhluk dari alam lain yang wujudnya pun tak jelas.

Yang menunjuk tiba-tiba tergelak, cukup lama, sebelum kemudian mendadak terdiam.

Kawannya, yang menjadi inang sementara si bungsu daru guntung itu, terbangun dengan sendirinya, terlihat bingung dengan kerumunan sekelilingnya.

“Badanku capek sekali.” Katanya, tidak pada siapa-siapa.

.

27.
.

Tahun terakhir sekolah, yang nyaris semester pertama hanya diisi praktek lapangan. Jauh dari kampus, jauh dari rumah, jauh dari semua-muanya, dua bulan penuh.

Tempat prakteknya itu, sebuah desa, yang beratus kilometer jauhnya dari sekolah, dari rumah, dari semua yang dikenalnya, dari gadis manisnya. Jadi selamat tinggal untuk sementara.

Rumus bakunya : jauh jarak + lama waktu = rindu. Teori itu sekarang harus dipraktekkan di dunia nyata. Padahal baru saja mempelajarinya, padahal tak ada gurunya.

“Hati-hati disana”
“Iya..”
“Jangan lirik-lirik anak pak kades” *ada apa sih dengan anak pak kades? 😐 *
“Nggak janji..”
“Heh!”
“Hehe iya deh”
“Jangan lupa kirim surat sesampainya disana”
“Iya”
“Jangan lupain aku…”
“Nggak..”
“Nggak apa?”
“Nggak lupa..”
“Nggak ada yang ketinggalan, kan?
“Ada”
“Eh?”
“Kamunya..”
Lalu dicubit. Hidih sekali.

.

28

.

Dia terlalu rajin, menggores dinding papan kandang itik, tempat prakteknya, dengan arang.   Ngikutin di film, menghitung hari ceritanya. Sekaligus mirip hitung-hitungan rekapitulasi hasil pemilu. Sehari satu goresan, dan hari itu adalah yang ke tiga puluh satu, masih ada dua puluh sembilan garis lagi.

Coba apa seninya praktek itu, urutannya simpel: bikin campuran pakan ternak sepagi mungkin-pergi ke kandang-ngasi makan itik-ngambil telornya-pulang-istirahat. Sore diulang lagi, besok diulang lagi. Begitu terus, kadang disela dengan mengelilingi kampung, berenang di sungai yang airnya coklat, sesekali melirik anak gadis tetangga. Aduh nakalnya. Tapi kan tidak sendirian, itu acara rombongan dengan kawan sekelompok, jadi halal saja sepertinya.

Selama itu pun, kabar hanya ada dua, kapan lagi ada?

Pertanyaan itu langsung terjawab, saat kembali ke rumah ketua kelompok tani, tempat menginap dua bulan yang nyaman.

“Tadi itu ada surat, itu di atas televisi”
“Oh iya, terimakasih”

Dibuka, dibaca, dikasih senyum suratnya, lalu malah bernyanyi pelan-pelan. Pelan sekali, karena kala itu sudah tengah malam, tapi untuk kelima kali, kegiatan membaca kembali diulang. Ada lirik lagu yang baru dikenalnya, dan baru didengarnya di radio tadi siang, sepotong saja yang diingatnya.

..semua kata rindumu selalu membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa
percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku ingin pulang..

Oh, lagu dewa sialan, jadi bertanya pada malam : kapan bisa pulang?

.

29.

.

Sementara itu, beratus kilometer dari kandang itik (kalimat yang sama sekali tidak romantis).   Seorang gadis masih terjaga.  Sudah menjelang sepuluh malam, lampu belajar dimejanya masih menyala. Kedua telapak tangannya menutup muka. Memejamkan mata bagusnya sejenak, mengernyitkan kening. Tugas apapun, yang biasanya lancar tanpa hambatan bagi dirinya, juara kelas tiap tahun yang tak pernah menemukan lawan seimbang dalam hal adu kecerdasan. Kini rasanya bikin berat kepala.

Alih-alih meneruskan dan berusaha konsentrasi, jemarinya malah meraih buku folio bergaris. Yang dimintanya sebelum kakak kelasnya berangkat praktek lapangan. Membuka bagian favoritnya, halaman paling belakang. Lalu mulai tersenyum-senyum sendiri.

Mengambil selebar kertas, menjumput marker 0.2 hitam, lalu asik sendiri menuliskan penuh satu halaman.

“Woi, tidur!” Kawan sekamarnya yang tidur di tingkat atas, mengagetkannya.  Tapi cuma sejenak, alih-alih berhenti, malah memutar salah satu single, yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya

Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

Menjelang fade, goresan ballpoin nya terhenti.  Menghirup napas dalam, lalu mengusap bening air yang pelan segaris keluar dari sudut kiri bening matanya.

“aku rindu…”  Bisiknya, tidak pada siapa-siapa, selain angin yang diam-diam menangkapnya kemudian membawanya keluar melalui kisi-kisi jendela, untuk kemudian dipeluk malam dan diterbangkan langit menuju bintang.

.

30.

.

Padahal sudah dua bulan, itu enam puluh hari. Waktu yang cukup lama.  Tapi rasanya masih ada malu, tapi ingin ketemu.  Gadis itu masih menggenggam secarik kertas yang tampaknya dirobek dari halaman belakang buku pelajaran, yang tadi dikasihkan teman sebangkunya.  ‘Titipan kakak kelas‘ Begitu saja pesan singkat yang mengiringinya.  Hanya ada sebaris tulisan disitu.

Malam ini aku boleh menemuimu, ya?

Hanya sebaris saja, tapi membuat rasa berdesir aneh tak karuan. Sedikit protes di dalam hati. “Pake ijin segala, ih!“.  Rasanya sisa dua mata pelajaran di akhir pekan itu ingin cepat-cepat dilaluinya.

..

Adinda, coba rasa cintaku di dada
Sesungguhnya cukup lama rinduku kutunda

Lamat-lamat selarik protonema singgah di antara mereka, yang duduk berdua di depan rumah kos sang gadis.  Tampak seakan-akan santai menikmati malam berlangit terang seusai isya.  Padahal ada pesta kembang api di dalam hati mereka, hanya terlukis di senyum tak kentara, yang gagal disembunyikan.
.
31.
.

Perpisahan itu kawan, sekuat apapun kau tahan, tetap akan terjadi, seringkali tak hanya sekali akan kau alami dalam hidup. Seringkali membuat hati sesak, harimu terasa membatu.

Kakak kelasnya, tak selamanya ada disitu, tapi dia selalu percaya, jika percaya pasti akan bertemu lagi, pasti dia akan menemuinya lagi.

Duduk di barisan kedua, tak terasa gadis manis itu berkaca-kaca. Seakan-akan gerakan melambat, saat kakak kelasnya perlahan bersama bandnya, bersama Fender stratocaster merahnya, tanpa pengantar langsung masuk ke intro..

..her hair reminds me of a warm, safe place where as a child I’d hide
And pray for the thunder and the rain to quietly pass me by

.
Panggung sudah sepi. Acara perpisahan sudah usai. Rasanya baru beberapa detik yang lalu, saat lelaki yang sama, yang sekarang sama-sama mendiamkan waktu, memberikan secarik kertas berisi lirik lagu kesukaannya.

“Sudah belum?”
“Eh, apanya?” Yang ditanya malah tergagap, sampai lupa melepas belt Fender stratocaster merah di bahunya.
“You’re all I need..”
.

“Hey!”
“Eh?”
“Kok melamun?”
Dia hanya tersenyum, hambar, dan sedikit dipaksakan.
“Besok..”
Kalimat lelaki itu terhenti disitu, telunjuk wangi gadisnya menutup bibirnya.

“Jangan bilang besok, jangan ada kata besok..”
“Tapi..”
Please..”
.

Malam pun hanya bisa ikut diam. Mengantarkan mereka berputar dalam pikirannya, kepada keinginan untuk menghentikan waktu, yang baru saja mereka mulai dan harus berakhir besok. Mungkin sementara, mungkin selamanya.

Dan kata mungkin pun, rasanya harus tak ada. Entahlah, cuma genggaman tangan yang semakin erat, dan tak pernah ingin lepas,

“Aku pulang dulu, sekalian pamit besok..”
Tak ada jawaban.
Tak ada pelukan.
Hanya anggukan.

Lalu langkah yang terayun pelan, kedua arah yang berbeda.
beberapa detik saja, untuk kembali terhenti sejenak. Kemudian sama-sama berbalik, menatap lama-lama.

Dan ada bisik lirik, yang entah tersampaikan atau tidak.
“Jangan lupakan, kita..”

.
32.
.
tatap matamu bagai busur panah yang kau lepaskan ke jantung hatiku
meski kau simpan cintamu masih detak nafasmu wangi hiasi suasana..
…kota yang baru, status yang baru, tempat tinggal yang baru, kawan baru, suasana yang baru.  Sebuah titik tempat yang sebenarnya dekat dari satu ke yang lain, tapi semua menjadi relatif karena adanya waktu, jeda waktu yang lama membuat semuanya terasa lebih jauh.
Malvinas, nama rumah kos mereka, seperti halnya kos-kosan mahasiswa di sekitar situ, semuanya punya nama.  Judul tempat tinggal yang terbagi atas sembilan kamar itu, terpulas dengan cat berwarna merah berlatar putih kusam, entah siapa yang membuatnya dulu, tertulis dengan cita rasa seni yang lumayan di sepotong kayu dan tergantung di tengah teras.
Teras yang lumayan luas itu menghadap langsung ke jalan raya, yang dibatasi dengan halaman yang lumayan bisa dibuat wahana kemping.   Tapi bagian yang paling menarik dari teras itu tetaplah kotak surat dari kayu, yang menempel di sisi kanan pintu masuk.  Tak bosan-bosannya menengok kesitu sebelum masuk, juga setiap keluar, seakan-akan selalu ada benda berharga terselip disitu untuknya.  Hanya satu yang dia harapkan ada untuknya disitu : selembar surat.  Lebih tepatnya : sepucuk surat dari gadisnya.
.
33
.
…sudah kelas tiga aja” pikir gadis manis itu.  Berjalan sendirian di koridor depan laboratorium, melangkah asal-asalan menuju ruangan di sampingnya : perpustakaan.   Siang itu hawa memang terasa agak panas, jam istirahat terakhir banyak temannya yang males bahkan sekedar keluar kelas, kalaupun ada kebanyakan hanya ngobrol di bawah pohon yang berjajar tepat di belakang kelas.  Sebagian kecil saja yang teramat rajin ke perpustakaan.
Sesampainya depan pintu ruangan favoritnya itu, bukannya masuk malah meneruskan langkah ke utara, ke arah kantor guru.  Setengah berharap saja dia ke arah situ, ke sisi ruangan tata usaha yang terdiri dari jejeran kaca nako.  Disitulah biasanya surat-surat untuk para siswa dipajang.  Matanya mengamati nama-nama penerima surat yang ada disitu, padahal baru saja kemarin dia kesitu juga, dan tak ada apapun untuk dirinya.
Langkahnya baru saja berbalik, dengan paras sedikit kecewa, saat seseorang memanggilnya..
“Hey, itu ada surat yang baru dateng, untukmu..”
..ada bunga yang mendadak mekar di musim semi wajahnya
..walau masih banyak bunga yang harum wangi berkembang hati tak terguncang..
.
34.
.
..mungkin cuma empat puluh kilometer, dan rasanya sudah setengahnya dilewati, di tengah siang yang cukup bersahabat, beberapa kali melewati naungan awan, beberapa kali menghela napas.   Tapi rindu membuat logika harus dikesampingkan, sepeda single speed itu cuma beberapa menit saja berhenti di bawah rimbun mangifera indica, crank kemudian dipaksa berputar lagi.
Tak ada niatan sebelumnya untuk mengunjungi mantan adik kelasnya itu, tapi toh prinsipnya kangen tak mengenal kata niat dan tak peduli dengan kata alasan.  Dan menjelang sore hari, gerbang sekolahnya yang masih gagah itu pun terlihat.  Mendadak udara terasa berubah sejuk… Tinggal menunggu waktu sehabis maghrib, kita bertemu lagi” pikirnya.
..bulan merah jambu luruh di kotamu
tak terasa bibirnya bersiul sumbang, lagu yang sebenarnya lirik lanjutannya lepas konteks..  Tapi siapa peduli ?
.
35
.
..malam ini indah penuh dengan cahaya ..
..padahal itu adalah malam selasa, yang besoknya adalah jadwalnya praktek ternak besar di kandang, tapi entah kenapa rasanya ada yang beda”  gadis itu bergumam sendiri.   Sampai tak lama teman sekosnya mengetuk puntu kamarnya, membukanya tanpa diminta kemudian tersenyum-senyum ke arahnya.
“Ada tamu tuh di luar..”
“Tamu ?”
Temannya hanya mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Tunggu sebentar.. ”  Kemudian keningnya berkerut “tamu?”
“Hai!”
Hanya satu kata itu yang disampaikan sang tamu ke arahnya, tapi langkahnya seakan tak lagi menjejak bumi, rongga dadanya rasanya dipenuhi helium yang siap meledak saat itu juga.
.
36.
.

mari kita sambung ke rumah baru disana ^^

About this entry